|
Bogor Pada Masa Vikariat Apostolik Batavia
Sejarah gereja di Bogor mulai tampil ketika pada tahun 1845 umat katolik bersama-sama umat protestan meresmikan sebuah gereja simultan yang mereka pakai sebagai tempat ibadah secara bergantian. Sekarang gedung ini telah menjadi gedung Kantor Pos Juanda. Saat itu tak ada seorang imam katolik pun yang diizinkan oleh pemerintah Hindia Belanda untuk menetap di Bogor. Umat katolik yang tinggal di Karasidenan Bogor dan Karasidenan Banten masih tergabung dalam wilayah gerejani Vikariat Apostolik Batavia, yang waktu itu dipimpin oleh Yang Mulia Mgr. Jakobus Groof Pr (1842-1846).
Pada tahun 1881, Mgr. A.C. Claessens Pr, Vikarius Apostolik Batavia 1874-1893, membeli sebidang tanah berikut rumahnya di Bogor, yang kemudian dipakai sebagai gedung gereja untuk menggantikan gedung simultan. Peristiwa ini mengakhiri penggunaan gereja secara bersama antara umat katolik dan protestan di Bogor. Imam pertama yang diizinkan menetap di Bogor adalah Pastor M.Y.D. Claessens Pr pada tahun 1885. Ia, yang adalah keponakan Mgr. A.C. Claessens, menjadi perintis dan gembala gereja katolik di Bogor.
Pada tahun 1886 ia merintis berdirinya panti asuhan dengan 6 anak asuh pertama. Panti ini berkembang terus, kemudian resmi berstatus hukum sebagai Yayasan Vincentius pada tahun 1887.
Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1889, secara resmi mengakui Bogor sebagai STASI dari Vikariat Apostolik Batavia. Tujuh tahun kemudian, pada tahun 1896 sayap misi dikembangkan lebih jauh oleh Pastor MYD Claessens Pr dengan membuka sebuah gereja di Sukabumi. Setelah itu ia kembali lagi ke Bogor untuk mengerjakan ‘mahkota segala karya’-nya, yaitu membangun sebuah gereja besar bercorak Gotik, yang mulai dipakai pada tahun 1905. Gereja inilah yang kemudian dijadikan Gereja Katedral. Para suster dari Ordo Ursulin berhasil dibujuk oleh Pastor Claessens untuk menetap di Bogor sejak tahun 1902 dan membuka TK dan SD untuk anak-anak orang Eropa. Pada tahun 1907 Pastor MYD Claessens kembali ke tanah airnya, Negeri Belanda, setelah 30 tahun lamanya bekerja keras membangun kebun anggur Tuhan di Bogor. Ia meninggal dunia dalam usia 82 tahun di Sittard, Belanda, pada tahun 1934. Karyanya dilanjutkan dengan lebih mantap oleh Pastor Antonius van Velsen SJ, seorang misionaris Yesuit, yang kemudian pada tahun 1924 diangkat oleh Tahta Suci menjadi Vikarius Apostolik Batavia keenam. Pada tanggal 4 Juli 1926, tujuh orang bruder dari Kongregasi Santa Maria di Lourdes (BRUDER BUDI MULIA) mengambilalih pimpinan dan penyelenggaraan panti asuhan Vincentius berikut sekolahnya. Kedatangan para bruder Budi Mulia mengakhiri masa karya penuh jasa dari pater-pater Yesuit bagi Vincentius. Di dalam gedung Vincentius inilah pada pesta Kabar sukacita, 25 Maret 1934, kongregasi Budi Mulia menerima dua orang novisnya yang pertama, dua orang pemuda pribumi, yang lahir dan dibesarkan di negeri ini.
Dalam tahun 1926, Ibu Schmutzer-Hendrikse mendirikan YAYASAN JEUGDZORG untuk mengasuh dan mendidik anak-anak yang tidak menikmati asuhan ibu. Yayasan ini juga menyelenggarakan pendidikan bagi para gadis remaja dan mempersiapkan mereka untuk menjadi pengasuh anak-anak dan pengatur rumah tangga yang cakap di kemudian hari. Usaha ini pada tahun 1932 diambilalih oleh para suster kongregasi FRANCISCAINES MISSIONAIRES DE MARIE (FMM).
Kemudian pada tahun 1930 Ordo Ursulin membuka HOLLANDS CHINESE SCHOOL (HCS) di kompleks yang sekarang menjadi sekolah REGINA PACIS, yang setelah perang dunia II pengelolaannya diserahkan kepada suster-suster FMM. Dalam bulan Januari 1938, paroki Bogor diserahkan oleh Serikat Yesus kepada ORDO KONVENTUAL. Para pater Konventual pertama adalah H. Th. Leenders dan L. van de Bergh. Kemudian pada bulan September 1938 diikuti oleh Y. van Vliet dan D. de Ridder.
|