ja_mageia

Home B e r i t a Artikel Terbaru Belajarlah mati, agar hidup makin ekaristis
Belajarlah mati, agar hidup makin ekaristis PDF Cetak Surel
Berita dan Artikel Terbaru - Artikel Terbaru
Ditulis oleh Blasius Slamet Lasmunadi Pr   
Minggu, 16 May 2010 17:21
Ketika Romo Aloysius Sinten Pr, sebagai Pastor Paroki yang baru di Moroarto, dalam kesempatan pertemuan para pengurus lingkungan dan stasi, beberapa orang mengusulkan Pastor Paroki untuk rajin mengunjungi keluarga-keluarga yang sudah "cuti" mingguan, bulanan bahkan tahunan untuk merayakan ekaristi. Pak Trimbil, begitulah panggilannya, mengatakan begini, "Romo, mereka yang "cuti" itu akan kembali rajin merayakan ekaristi mingguan kalau Romo yang memperingatkan!! Kami yakin, dalam hal ini kami membutuhkan pastor sebagai pihak yang berwenang mengingatkan!!" Demikianlah juga hal senada juga diutarakan oleh hampir semua pengurus lingkungan, tidak ketinggalan tim Liturginya. Dengan nada rendah dan suara lembut, Pastor Sinten menanggapi usulan mereka begini, "Saudari-saudara, itulah wajah hidup menggereja kita! Kita mau sungguh-sungguh menghayati hidup beriman, misalnya dalam perayaan Ekaristi saja, masih dibutuhkan seorang yang berperan menjadi "pengawas"! Kalau ada yang mengawasi, kita takut, lalu mau berbuat!! Nah...jangan-jangan....sambil tertawa Pastor Sinten mengatakan, "Wah, kalau saya yang datang dan memperingatkan mereka lalu mereka akhirnya mau ke Gereja tiap Minggu, jangan-jangan saya bukan jadi pastor, tetapi malah jadi "anjing herder"...!! " Para pengurus lingkungan dan stasi tersenyum kecut mendengar tanggapan Romo Sinten yang lucu tapi juga "nyata". Lagi, Pastor Sinten menambahkan, "Nah, Bagaimanakah umat akan tumbuh dan berkembang dalam iman kalau saya menjadi orang yang ditakuti? Bagaimanakah mungkin kasih kepada Allah dan sesama akan tumbuh subur dalam suasana yang penuh ketakutan??" Kisah pendek tadi menunjukkan ada kekurangmengertian umat dalam menentukan motivasi dalam merayakan ekaristi. Kekurangmengertian itu berpengaruh pada persiapan maupun pelaksanaan Ekaristi. Akhirnya tidak dapat dipungkiri, amat dipertanyakan pengaruh Ekaristi dalam kehidupan mereka setiap hari. Dengan situasi itu muncul sebuah keprihatinan, bagaimanakah umat kristiani mampu menghayati Ekaristi sebagai puncak dan sumber hidup berimannya? Keprihatinan itu saya tanggapi dalam suasana tahun Ekaristi 2004-2005 yang dibuka oleh Paus Yohanes Paulus II dengan Surat Apostoliknya, "Mane nobiscum Domine" (Tinggallah bersama kami, ya Tuhan) A. Motivasi umat untuk merayakan Ekaristi Dengan berkelakar, Pastor Sinten menunjukkan bahwa dirinya tidak mau diperlakukan sebagai "pengawas" umat dalam hidup beriman. Di balik kelakarnya itu, dia mau mengajak umat untuk memikirkan kembali secara menyeluruh, bahwa hidup beriman itu tumbuh dan berkembang bukan dalam "keterpaksaan berbuat karena ketakutan terhadap otoritas Gereja" melainkan supaya hidup beriman tumbuh dalam kebebasan sebagai anak-anak Allah. Setiap orang yang dibaptis dipercaya Allah untuk mencintai seperti Allah mencintai karena manusia diciptakan menurut citra-Nya. Karena itu manusia dianugerahi akalbudi dan kebebasan. Itulah sebabnya manusia berhak untuk menentukan hidupnya, termasuk keputusan untuk merayakan Ekaristi mesti dibuat dalam kebebasan. Itulah yang akan membahagiakan manusia, "Berbahagialah orang yang tidak melihat namun percaya". "Ketersembunyian" Allah yang kita imani itu sebenarnya terkandung kehendak ilahi agar manusia sungguh-sungguh dengan tulus hati dan penuh kebebasan tanpa dipaksa siapapun, mau mempercayakan hidup dan masa depannya kepada Allah. Kenyataan ini rasanya pantas disadari supaya orang dapat mengambil keputusan iman dengan penuh tanggung jawab. Demikianlah juga, alasan untuk merayakan ekaristi juga mesti sungguh-sungguh dibuat dengan ketulusan hati tanpa terpaksa, termasuk juga tidak sekedar memenuhi kewajiban. Dalam suasana "kebebasan", orang akan belajar untuk menangkap makna perayaan Ekaristi sebagai puncak dan sumber hidup orang beriman (bdk. Konsitusi Liturgi 10). Sebagaimana puncak didahului dengan bukit yang landai, terus menaik, demikianlah juga perayaan Ekaristi menuntut sebuah persiapan "menuju puncak" Bagaimana persiapan menuju puncak itu dibuat? Di lain pihak, bagaimanakah kita merayakan Ekaristi agar sungguh Ekaristi dapat menjadi "sumber" bagi umat beriman sehingga mereka memiliki daya kekuatan untuk mewujudkan persatuannya dengan Kristus melalui santapan tubuh dan darah-Nya dalam kehidupan setiap hari. Dengan menyantap tubuh dan darah Kristus, kita dipersatukan Roh Kudus dengan hidup Kristus yang ilahi. Karena itu kita pun diutus untuk hidup seturut gaya hidup Kristus, sehati dan seperasaan dengan-Nya. B. Persiapan menuju "puncak" Persiapan yang kerap kali terjadi adalah persiapan "ala kadarnya". Artinya kerap terjadi dalam keluarga-keluarga itu pertengkaran kecil-kecil seperti rebutan mandi, bingung memilih baju, waktu yang mepet untuk berangkat, bingung memilih angkutan: naik mobil pribadi, naik motor, jalan kaki, atau naik becak, dst. Belum lagi di Gereja kerap kali belum siap misdinar, lector, prodiakon, koornya, para petugas tatalaksana dsb. Apapun persiapan yang direncanakan kadang-kadang menjadi persiapan yang "diwarnai ketergesa-gesaan, rasa marah, mangkel, dan bingung". Persiapan itu tidak hanya fisik melainkan juga persiapan lahir batin. Olah batin itu tidak serta merta terjadi sebelum Ekaristi, melainkan sebuah "peziarahan hidup". Dalam peziarahan itu, salah satu sikap hidup yang mewarnai dunia adalah "ketidakkonsistenan" antara kata dan perbuatan, antara niat baik dan tingkah laku. Ketidakkonsistenan itu dikatakan oleh Santo Paulus sebagai tanda adanya kekuasaan dosa." Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat. Jadi jika aku perbuat apa yang tidak aku kehendaki, aku menyetujui, bahwa hukum Taurat itu baik. Kalau demikian bukan aku lagi yang memperbuatnya, tetapi dosa yang ada di dalam aku (Rom 7:14-16) Ketidakkonsistenan itu membuat pribadi manusia mendua hati. Di satu pihak dengan mulut ia mengakui Yesus Kristus adalah Tuhan. Di lain pihak, ketika berhadapan dengan situasi hidup yang konkret dengan segala tantangan dan persoalannya, manusia bisa berbalik dari Tuhan. Situasi hidup yang konkret itu menggerakkan diri kita untuk membuat sebuah pilihan. Pilihan itu ada karena di satu sisi kita memiliki kecenderungan dosa, yakni (1) ambisi untuk selalu menikmati segala-galanya tanpa usaha (instant) : cepat, nikmat, sesedikit mungkin usaha. (2) ambisi untuk menjadi terkenal, popular, dipuji dan diistimewakan, karena sungguh-sungguh menjadi orang yang hebat, pahlawan, "superman, superwoman", dan bisa segalanya, (3) ambisi untuk berkuasa atas hidup orang lain supaya bisa memiliki segala-galanya. Godaan untuk mencapai ambisi menjadi hebat dialami Yesus setelah berpuasa 40 hari, yakni menjadi tukang sulap untuk mengubah batu menjadi roti. Ambisi untuk dikatakan orang hebat dan "allround" adalah pengalaman Yesus digoda turun dari bubungan Bait Allah. Ambisi untuk menjadi kuasa akan terpenuhi asalkan Yesus mau menyembah Iblis. Ketiga ambisi yang ditawarkan Iblis ternyata ditanggapi dengan penolakan Yesus yang sungguh tegas dan berwibawa. Yesus mampu menolak dengan tegas berkat kesatuannya dengan Roh Allah Bapa-Nya. Persoalannya adalah mengapa kita tidak mampu menolak godaan itu sebagaimana sikap Yesus?. Ketidakmampuan untuk bersikap tegas terhadap kecenderungan dosa berakar dalam kuasa dosa yang membuat hati orang terpecah-pecah. Namun pribadi yang terpecah itu tidak menjadi alasan untuk merayakan Ekaristi. Justru keterpecahan itu sungguh menjadi istimewa di hadapan Allah, seperti kata pemazmur, "Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah." Dalam keterpecahan itulah, dengan mengugkapkan "Tuhan, kasihanilah kami", kita mau menyingkapkan keretakan pribadi manusia di hadapan Allah, supaya Allah sendiri mengubah hatiku menjadi hati yang lemah lembut dan rendah hati sehingga siap untuk mendengarkan sabda Allah. C. Perhentian sebelum berjalan menuju puncak: "mendengarkan sabda Tuhan" (Liturgi Sabda) Dalam Liturgi Sabda, para lector, pemazmur dan terutama Imam, menjadi tanda kehadiran Kristus yang bersabda. Melalui para petugas liturgi itu, Kristus mau meneguhkan iman bahwa Allah sungguh nyata mengasihi manusia walaupun manusia jatuh bangun dalam dosa. Allah tidak pernah menyesal mencintai manusia. Karena itulah Allah mengutus Putera-Nya Yesus Kristus untuk menjadi manusia, dan tinggal bersama kita: mengalami kematian manusia melalui sengsara dan wafat-Nya. Sebaliknya juga pewartaan sabda Tuhan dalam homili mengajak kita untuk mengenal bagaimana umat Allah dalam PL dan PB menanggapi cinta Tuhan. Semoga berkat pewartaan itu, umat tergerak untuk menanggapi sabda Tuhan dengan melaksanakannya dalam hidup sehari-hari. Melaksanakan sabda Tuhan itu berarti: menjadikan Sabda Tuhan sebagai arah hidup, pedoman dan visinya. Sebagai arah hidup, Sabda Tuhan dijadikan dasar pertimbangan untuk mengambil keputusan hidup: sikap, tindakan dan gaya hidup kita. Dengan mendengarkan sabda Tuhan, orang digerakkan untuk menaruh kepercayaan kepada Dia yang telah lebih dahulu mengasihi kita. Di situlah peran imam dalam Liturgi Sabda, sebagai tanda kehadiran Kristus yang merayakan Ekaristi bersama Gereja-Nya (in persona Christi), menjadi peneguh iman sekaligus dengan homilinya ia mengajak umat untuk mewujudkan sabda Tuhan itu menjadi kenyataan, agar "bukan hanya menjadi pendengar melainkan menjadi pelaksana sabda Tuhan". Dengan kata lain setelah mendengar sabda Tuhan itu, merekapun akan mengundang Tuhan, "Tinggallah bersama-sama dengan kami ya Tuhan" (bdk. Luk 24:39) D. Jalan terus sebelum mencapai puncak justru karena "percaya" Sebelum orang mencapai puncak gunung dibutuhkan pengharapan. Demikianlah juga persatuan dengan Kristus dalam Ekaristi menuntut sebuah pengharapan. Dasar pengharapan itu adalah percaya. Percaya itu bukan sekedar usaha dan niat baik manusia melainkan sebuah anugerah Roh Kudus. Percaya tidak menuntut bukti melainkan kesediaan untuk "melompat dalam ketidakpastian": berani melangkah dalam ketidakpastian karena mengenal siapakah "Pribadi yang kuandalkan". Kenyataannya dalam hidup, siapakah yang kuajak untuk tinggal bersama dengan diriku?? Siapakah yang kupercayai?? Kalau orang menerima HP saat Misa berlangsung, siapakah sebenarnya yang menjiwai hidupnya: HP atau Tuhan yang sedang hadir? Rapat penentuan pertemuan pendalaman iman, Kitab Suci, Misa Lingkungan, bahkan acara keluargapun banyak ditentukan oleh "jenis dan macam acaran televisi" Kalau acara TV itu menarik, lebih baik menunda acara lain, meskipun acara yang ditunda itu penting sekalipun! Acara TV bisa menjadi "tuhan" atau "dewa" jaman sekarang yang "dipercaya manusia untuk menentukan arah hidupnya". Jadi, siapakah yang kuajak untuk "tinggal bersama-sama dengan kami"? Sekedar bertanya, pada diriku sendiri dulu. E. Sikap yang percaya pasti kan berlanjut untuk menyerahkan diri. Keyakinan untuk mengundang Tuhan tinggal bersama diungkapkan dalam "Credo-Aku percaya dan Doa Umat". Keyakinan umat itulah yang dipersembahkan kepada Allah dengan perantaraan Kristus yang menyerahkan diri-Nya penuh syukur kepada Bapa. Maka, dalam persiapan persembahan, kita diajak untuk menyerahkan diri. "Persembahan" itu berarti "penyerahan diri" (English: to offer, Latin: offertorium), yakni mengubah pusat hidup dan jaminan masa depan kita dari diri sendiri menuju kepada Allah dengan segala resiko: membiarkan Allah berkarya. "Jadikanlah aku bola-Mu, yang bisa Engkau sepak ke sana kemari" (St. Teresia Kanak-Kanak Yesus). Dengan kata lain, "mengosongkan diri": melepaskan segala sesuatu yang istimewa menurutku, dan mau mengikatkan diri kepada Tuhan. Sikap hidup itulah yang akan diperbaharui dan ditegaskan kembali dalam Doa Syukur Agung. Maka Kristus mengajak kita untuk memperbaharui sekaligus menyegarkan komitmen kita untuk menjadi pengikut Kristus yang mau menyangkal diri, memikul salib, dan menyerahkan nyawa demi kepentingan kerajaan-Nya. Dalam DSA Kristus berdoa kepada Bapa untuk mengutus Roh Kudus, agar menguduskan roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah-Nya. Perubahan itu bukanlah perubahan artifisial, melainkan sungguh perubahan hakekat seperti kain merah putih yang disusun atas bawah seperti bendera kita. Kain itu bukan sekedar bendera melainkan melambangkan "bangsa dan negara Indonesia". Demikianlah juga, roti dan anggur yang diubah oleh Roh Kudus yang dimohon Kristus kepada Bapa menjadi Tubuh dan Darah Kristus, bukanlah sekedar roti dan anggur, melainkan sungguh sudah berubah hakekat dan jati dirinya, yakni Tubuh dan Darah Kristus. Tubuh dan Darah Kristus itu dipercayakan kepada orang beriman untuk dimakan dan diminum. Itu berarti Tuhan mau mempercayakan diri-Nya, seluruh hidup, keinginan, perasaan, kehendak dan sabda-Nya, bahkan Roh-Nya kepada kita semua. Namun apakah sungguh saya menerima kepercayaan itu? Cukupkah dengan mengatakan "Amin" selesailah sudah? F. Setelah perayaan Ekaristi, apakah yang mesti kubuat? Dengan menyatakan "Amin" setiap kali menyambut tubuh dan darah Kristus, sebenarnya kita menyatakan sungguh-sungguh bersedia untuk mati dan bangkit bersama Kristus. Di sinilah saatnya kita mesti belajar mati dengan Kristus, agar kelak bangkit bersama dengan-Nya? Untuk menjelaskan "belajar mati", kita akan membaca kisah di bawah ini. Dalam sebuah katekese liturgi di Lingkungan Andreas Paroki Sugih Arta untuk menyambut Tahun Ekaristi, Rm. Sinten mengawali perjumpaannya dengan sebuah teka-teki, "Kenapa ikan di laut rasanya tidak asin padahal air laut rasanya asin? Coba saja, kalau Bapak atau Ibu memasak ikan laut yang segar, kemudian masakan itu tidak usah diberi garam cukup, apakah ikan itu sudah terasa asin? Ternyata, ikan itu rasanya tawar bukan?" Para Bapak, Ibu dan kaum muda yang ikut dalam katekese liturgi ini pun mengiyakan kata-kata Rm. Sinten. Tapi pertanyaan yang sederhana dan tidak terpikir itu, rupa-rupanya sulit dijawab. Rm Sinten tetap memberi kesempatan kepada umat untuk menjawab, "Mengapa terjadi begitu, air yang asin dan berlimpah ruah itu tidak mampu mengasini ikan-ikan kecil, apalagi ikan-ikan besar pun tidak terasa asin.? Akhirnya Mas Gantheng pun mengangkat tangannya, "Romo, singkat saja, ya semua itu karena sudah takdir!!" Rm Sinten pun menganggukkan kepala, "Iya takdir, tapi untuk apa dipertanyakan kalau kejadian itu takdir?" Jeng Mloes, wanita tengah baya, Ketua Tim Liturgi Paroki Sugiharta pun tak ketinggalan, "Romo, karena Tuhan sudah menciptakan laut dan seisinya memang seperti itu, jadi untuk apa dipertanyakan, bukankah kita mau bicara soal Ekaristi dan hidup sehari-hari? Kok malah tanya yang aneh-aneh! Mendengar pendapat Jeng Mloes, Rm Sinten yang masih balita hanya diam dan tidak menanggapi. Dia lalu melanjutkan pembicaraan!! "Coba perhatikan, ikan yang bisa diasini itu ikan macam apa?" tanya Rm. Sinten. Dengan serentak umatpu menyahut, "Ikan mati". "Jadi..." kata Rm. Sinten dengan mantapnya" ....ikan di laut itu tawar rasanya karena apa?" Kali ini umat langsung berteriak, "Karena hiduup!!!" Dengan penuh semangat Rm, Sinten bertanya lagiKalau begitu, apa yang mesti kita buat kalau Yesus bersabda, "Kamu adalah garam dunia! Jadi, mungkinkah kita menjadi garam dunia kalau kita tidak mati??" "Mati berarti kehilangan identitas, kehilangan nyawa, berani kehilangan harga diri dan ketenaran, kekuasaan dan harta, masa depan. Itulah yang disalibkan Yesus. Dengan disalib itu Yesus pun menggenapi sabda-Nya, " Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah. Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal (Yoh 12:24-25). Kutipan itu makin menjelaskan makna kebangkitan Yesus dari antara orang mati. Kebangkitan-Nya menegaskan sabda-Nya bahwa awal kehidupan itu adalah kerelaan untuk mati yakni mau memilih kehilangan nyawa, kata Yesus, bagaikan biji gandum yang mati, tetapi tumbuh menjadi tumbuhan gandum dan berbuah banyak. Pertanyaannya adalah "manakah nyawa" kita? Nyawa kita bukan sekedar pengertian "nyawa" yang identik dengan jiwa, tetapi barangkali "nyawa" berarti "sebuah keterikatan emosional dengan segala sesuatu" sampai "ikatan itu mengendalikan arah hidup saya". Misalnya, suatu saat Ibu Agnes memarahi anaknya, Bejo, yang baru berumur 5 tahun karena ia memecahkan gelas saat belajar mencuci. Akhirnya Bejo dicubit pahanya sampai menangis. Kejadian itu menunjukkan bukankah harga sebuah gelas kadang-kadang lebih tinggi daripada martabat pribadi manusia? Sebagai kesimpulan, Rm. Sinten merumuskan sebuah pertanyaan refleksif, "adakah Sakramen Ekaristi menjadi Sakramen kasih yang hidup di tengah keluarga kalau kenyataannya gaya hidupnya tidak searah dengan gaya hidup Kristus yang diwarnai kasih? Setelah pertanyaan dilontarkan, lalu hening dan memanjatkan doa spontan. Akhirnya acara pertemuan katekese liturgi itu ditutup dengan doa dan berkat dari Rm Sinten. Mereka pulang dengan kelegaan namun juga tantangan baru yang menyegarkan. G. Perutusan dari altar ke pelataran Kisah "pertemuan katekese liturgi" tadi memberikan wawasan yang baru, bahwa hidup beriman itu tidak hanya berhenti di perayaan iman seputar altar melainkan perayaan iman semestinya dilaksanakan di "pelataran" artinya dalam hidup yang konkret di tengah dunia. Dengan gaya hidup macam itulah, kita digerakkan untuk "belajar mati" , yakni mau melepaskan ambisi untuk menjadi hebat, terkenal, berkuasa. Dengan "belajar mati" kita lalu selalu siap untuk memulai tindakan mencintai seperti Allah mencintai, yakni (1) memelihara hidup, yakni ketekunan memperjuangkan hidup harian keluarga, komunitas, menjaga kelestarian tanah dan lingkungan hidup, dsb. ; (2) mau mengampuni ( memberikan kesempatan orang lain untuk tumbuh dan berkembang, dengan latihan berpikir positif (yakni tidak menilai dan menghakimi) dan (3) menjadi tanda pengharapan bagi orang yang putus asa, miskin, lemah, kecil dan tersingkir. H. Peluang untuk "katekese liturgi" Di balik kekurangkonsistenan itu ada "sebuah jalan pemikiran" yang cenderung memisahkan "perayaan iman" dan "perwujudannya". Kesenjangan inilah rasanya sebuah "peluang" yang tidak pernah habis untuk diisi dengan "katekese liturgi", agar liturgi kita tidak hanya seputar altar melainkan liturgi kita sampai di pelataran. Ekaristi tidak sekedar ceremonial agung, megah, dan "sacrum", melainkan Ekaristi akan menjadi "sakramen kasih Allah yang hidup" justru dalam tindakan orang beriman yang membagi-bagikan hidup bagi sesama sebagaimana dilambangkan Kristus dengan "memecah-mecahkan roti" dan "dibagi-bagikan kepada para murid-Nya". Saat "pemecahan itulah" Kristus dikenal kedua murid dari Emaus. I. Akhir kata Penghayatan Ekaristi itu diarahkan agar orang semakin mampu memperkenalkan Yesus itu Kristus. Yesus itu sungguh Mesias yang menyelamatkan manusia bukan melalui gerak menaik: kekuasaan, kekuatan dan popularitas, melainkan dengan gerak turun: penderitaan dan wafat-Nya di kayu salib. Tindakan itulah yang diterima Allah dengan membangkitkan-Nya dari antara orang mati. Hidup Kristus itulah yang senyatanya diperkenalkan umat beriman dalam seluruh hidupnya: mengasihi seperti Kristus mengasihi kita tanpa syarat!! Itulah Ekaristi yang hidup!! Semoga Kristus yang bertindak merayakan Ekaristi bersama dengan Gereja-Nya menggerakkan hati dan budi kita untuk menjadikan hidup kita makin nampak ekaristis, yakni menampilkan wajah Kristus dalam dunia! Blasius Slamet Lasmunadi, Pr


Posted: 2010-05-14 01:00:00
 

Login Form



Login using Facebook

Website Pilihan

Kantor Waligereja Indonesia Mirifica News Keuskupan Bogor [dot] Org Your ad here

Milis KARIRBGR