|
Oleh Emanuel Martasudjita Pr
Bapak Kardinal, Mgr. Suharyo, Mgr. Sunarko, Rama Administrator, para Rama, Bruder, dan Suster, para bapak dan ibu, anak-anak-remaja dan kaum muda, secara khusus keluarga besar dari Rm Stanislaus Darmawijaya yang saya hormati dan kasihi
Yang semestinya menyampaikan homili saat ini adalah Rama Administrator Diosesan KAS, Rama Riana. Namun karena beliau menghendaki agar salah satu dari kami para staf ST yang menyampaikan homili, entah bagaimana singkat ceritanya, saya yang ketiban sampur. Demi ketaatan saya kepada Rama Administrator, demi cinta saya kepada Rama Darmawijaya, saya melaksanakan tugas ini dengan rela. Namun saya pun tidak kurang akal, saya langsung berguru pada Rama Darmawijaya sendiri, dan melalui tulisan beliau yang berjudul 40 tahun menjadi imam, Langka dan Nyata, saya menemukan pokok-pokok homili pagi ini. Maka homili pagi ini aslinya merupakan buah permenungan Rama Darmawijaya sendiri, sehingga seolah-olah kini biarlah beliau yang berhomili sendiri, saya hanya urun mulut dan suara, serta sedikit pikiran yang merangkai kata-kata.
Bacaan pertama yang kita dengarkan tadi diambil dari surat santo Petrus. Santo Petrus mengajak kami para imam untuk menggembalakan kawanan domba Allah dengan sukarela sesuai dengan kehendak Allah, bukan utk mencari keuntungan tetapi dengan mengabdi, bukan dengan memerintah tetapi menjadi teladan!
Kata-kata ini kita yakini dengan sepenuhnya bahwa Rama Stanislaus Darmawijaya semasa hidupnya sebagai imam telah melaksanakan pesan santo Petrus ini dengan sebaik-baiknya. Rama Darma mencapai usia hampir 75 th, sebagai imam hampir 47 tahun, dan dari 47 tahun sbg imam itu, Rama Darma bertugas di ST selama lebih dari 40 tahun sendiri. Dan beliau melaksanakan tugas perutusan itu dengan setia dan rela. Entah, apakah akan ada lagi seorang Rama staf yang begitu setia dan lama bertugas di ST seperti Rm Darmawijaya ini.
Rama Darmawijaya menonjol dalam pengabdian yang begitu menghayati semangat kesederhanaan; hal yang amat sesuai dengan sabda Tuhan pada Injil hari ini: Berbahagialah orang yang miskin dihadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga.
Homili saat ini akan saya beri kerangka pada keyakinan Rama St. Darmawijaya sendiri mengenai citra imam di KAS, bahwa imam adalah seorang rohaniwan, cendekiawan, dan budayawan. Urutan ini bagi Rama Darma penting dan tidak boleh dibalik-balik. Penampilam seorang imam pertama-tama mesti orang yang dipenuhi Roh Allah. Lalu seorang imam perlu berpikir secara teratur, cermat dan teliti berhadapan dengan berbagai masalah kehidupan. Itulah cendekiawan. Dan akhirnya seorang imam mestilah seorang budayawan, artinya: mampu menunjukkan unsur budidaya manusiawi yg utuh, seperti budi bahasa, pekerti dan unggah-ungguh sbg tokoh masyarakat.
Itulah Rama Darmawijaya: seorang rohaniwan, cendekiawan dan budayawan. Dan itu tampak dalam foto beliau yang di depan peti atau dalam cover buku.
Bagaimana komentar anda?
Tampak kan dalam foto itu, Rama Darma yang damai, aman, tenang, kebapaan, menep, pasrah dan percaya kepada Allah justru karena dipenuhi oleh Roh Allah. Itulah Rama Darma yang rohaniwan, apalagi beliau memakai jubah, walau barangkali celananya terkadang celana panjang komprang itu. Beliau juga tampak orang sedang menggalih atau berpikir sesuatu, itulah tanda seorang yang tidak pernah berhenti berpikir bagi pelayanan Gereja dan sesama. Itulah beliau seorang cendekiawan yang terbukti dari ketekunannya sebagao dosen KS puluhan tahun dan begitu banyak buku dan artikel yg ia tulis. Dari foto pula, tampak bagaimana Rama Darma juga seorang budayawan, tampak karena sedang memelihara kumis dan jenggot yang tetap lumayan rapi, dengan rambut warna putih yg menunjuk kearifan dan kebijaksanaan beliau, yang dalam bahasa wayang: seorang pendita yang sudah mengku liring kasarjanan. Sudah sekitar dua atau tiga tahun ini Rama Darma mencukur kumis dan jenggotnya, mungkin beliau sudah merasa tidak lama lagi sowan Gusti, karena beliau tahu, kalau sudah di peti seperti sekarang tidak akan sempat mencukur kumis jenggot sendiri lagi.
1. Rama Darmawijaya adalah seorang rohaniwan
Sebagai imam, Rama Darma menghidupi iman dan rohaninya secara amat mendalam, dengan pusatnya pada Ekaristi, menimba kekayaan dan kekuatan rohani dari Sabda Allah dalam KS yang menjadi spesialisasinya, lectio divina-meditatio- contemplatio, yang selama retret tahun imam ini dijalani dengan teratur (biasanya antara jam 14.30-15.30 mengurangi kebiasan sepeda sore), doa devosi yang kuat terutama pd Bunda Maria, rosario setiap hari sekitar jam 17 atau 18, visitasi teratur sambil berlutut di kapel Pius dengan ungkapan suara berbisik….Semua menggambarkan kehidupan iman dan doa yang mendalam, yang menampakkan hidup kepenuhan Roh Allah sendiri.
Moto hidup yang menggerakkan imamat beliau adalah Jadilah Kehendak-Mu ya Tuhan, sebagaimana doa Yesus di Getsemani saat Tuhan menyerahkan hidup-Nya pada kehendak Bapa. Rama Darma berkata: ajakan Yesus untuk berdoa, menyerahkan diri pada kehendak Allah, amat terasa maknanya yang amat mendalam dan sulit diungkapkan. Bagi Rama Darma, doa Jadilah Kehendak-Mu bukan sekedar kepasrahan pasif, tetapi pertama-tama sebuah confessio, pengakuan.
- Confessio laudis – pengakuan pujian
- Confessio fidei – pengakuan iman
- Confessio vitae – pengakauan hidup
Itulah mercusuar yang menuntun hidup Rama Darmawijaya: ia menjalani hidup ini dengan penuh syukur dan memuji Allah, namun sekaligus mengisi syukur itu dengan berbakti, berbuat baik dan menikmati rahmat-Nya yang melimpah
Kapabilitas dan kedalaman rohani Rama Darmawijaya jelas diakui oleh hampir semua kalangan di Gereja, sebagaimana tampak dalam banyaknya permohonan kepada beliau untuk menjadi Bapa Pengakuan, pembimbing retret dan rekoleksi atau pendalaman-pendalam an rohani khususnya KS lainnya.
Kenangan 40 tahun imamatnya mengantar pada kebijaksanaan hidup yang mengalir dari curahan Roh Kudus sendiri dari Allah. Berbagi kesulitan telah ia alami selama menjadi imam, selama studi di Roma antara tahun 1964-1969, selama tugas-tugas berat di ST dan khususnya di FTW. Kesulitan menempa Rama Darma menemukan segi positif dalam perjuangan panjang, menjadikannya orang bijaksana dengan pengalaman yang ada. Rama Darma tidak berpikir muluk, tidak pernah mau aneh-aneh. Doa yang sering ia ucapkan ialah one step enough for me, satu langkah cukuplah bagiku ya Tuhan, saat segala usaha yang ia buat kok terasa pelan dan tidak cepat-cepat berhasil. Beliau menghayati kebijaksanaan Jawa alon-alon waton kelakon, bukan karena kemalasan tetapi karena kesadaran bahwa usaha memang harus sesuai dengan kemampuan diri yang ada.
Bruder Michael adiknya bersharing kepada saya, betapa Rama Darma unggul dalam kebijaksanaan, bukan hanya dalam tutur kata tetapi dalam pilihan dan perbuatan, bahkan-bahkan ayah Rama Darma sendiri mengakui dan tunduk dengan saran-saran Rama Darma saat ada kesulitan dalam keluarga di Payak. Itulah kebijaksanaan yang mengalir dari hidup rohani karena digerakkan oleh iman dan bimbingan Roh Kudus.
2. Rama Darma adalah seorang cendekiawan
Cita-cita pertama beliau saat mau menjadi imam adalah ingin menjadi pastor paroki. Tetapi bukan ia sendiri yang boleh memilih tugas. Tuhanlah melalui Gereja yang memilihkan dan menentukan tugas perutusan dan jalan hidupnya. Rama Darma ditahbiskan tanggal 2 Juli 1963, di gereja st. Antonius Kotabaru, bersama Rm Gregorius Utomo, Rm Raymundus Mardisuwignyo, dan Rama Stanislaus Sutapanitra, oleh Mgr. Albers O.Carm, Uskup Malang padawaktu itu. Tugas pertamnya ialah di paroki Promasan, cuma satu tahun saja ia di sana, membantu Rm Utaya, tetapi kenangan satu tahun di Promasan itu tak pernah terlupakan, dan sering beliau ceritakan di antara kami hingga beberapa waktu lalu.
Gereja atau tepatnya Tuhan menghendaki Rama Darma mempersiapkan diri untuk menjadi dosen, ia harus pergi ke Roma tahun 1964. Ia studi 2 tahun di Universitas Gregoriana dan selanjutnya 3 tahun di Biblicum utk mendalami KS. Di Roma, beliau mempunyai teman se dioses Mgr. Kartasiswaya yang saat ini juga hadir….Teman sharing dan sama-sama di rantau.
Kembali pada bulan 25 Oktober 1969, maka sejak awal tahun 1970 Rama Darmawijaya bertugas di Seminari Tinggi dan sekaligus dosen KS di FTW yang waktu itu bernama Institut Filsafat dan Teologi. Jadi tgl 25 Oktober 2009 tahun lalu, beliau bertugas persis 40 tahun di ST. Sebagai dosen, Rama Darma aktif mengajar hampir segala matakuliah KS sejak tahun 1970, menjadi anggota Dewan Harian IFT dan pada tanggal 30 Maret 1983 ia menjadi ketua jurusan filsafat dan sosiologi pendidikan, dan saat 1 Nov 1984 IFT menjadi FTW, Rama Darmawijaya menjadi Ketua FTW yang pertama yang dijalaninya hingga akhir pada periode kedua tahun 1989. Selanjutnya ia masih mengajar penuh, hingga akhirnya memasuki masa pensiun dosen tahun 2001. Hingga sekitar tahun 2006 meski sudah pensiun beliau masih mengajar satu dua seminar di S2.
Kapabilitas sebagai cendekiawan telah dia tunjukkan melalui kemampuan akademiknya yang unggul, karya publikasi buku dan artikelnya yang tak terhitung banyaknya, bahkan hingga akhir, beliau masih aktif menulis. Sebagai sosok pemimpin beliau juga telah membuktikan ketika menjadi pejabat struktural di FTW. Dua hal yang selalu menjadi kenangan: Rama Darma bersama para dosen senior kami berhasil memperjuangkan IFT memperoleh pengakuan dari negara dengan gelar-gelar Sarjana Muda, Sarjana penuh atau kemudian S1, dan pengakuan dari Gereja yakni IFT diakui oleh Tahta Suci sbg fakultas teologi kepausan yang sekarang kita kenal dengan FTW. Pasti bukan hanya karena Rama Darma sendiri, tetapi sungguh peran beliau termasuk salah satu yang menentukan dan tak tergantikan dalam sejarah.
Secara nasional, beliau juga lama berkiprah di LBI sejak tahun 1970 bahkan sekian tahun sejak tahun 1982 Rama Darmawijaya menjadi Ketua LBI. Karya di bidang Kitab Suci ini jelas telah menjadi pelayanan yang luar biasa bagi Gereja di Indonesia.
3. Rama Darma adalah seorang budayawan
Budayawan di sini dimaksudkan oleh Rama Darma sebagai seorang yang memiliki budidaya manusiawi yang utuh. Kiranya litani ini akan langsung anda setujui: Rama Darma adalah seorang figur bapak yang rendah hati, sangat sederhana atau prasaja, sangat gemati dan perhatian kepada siapapun, dg segala lapisan ia bisa akrab dan berbicara enak, orang yang sumeh, ramah, sumanak, sumadulur, santai, tidak berpikir aneh-aneh, tidak pernah berpikir yang tidak-tidak tetapi selalu yang iya-iya, orang yang sumeleh dan menep, orang yang kepadanya orang lain merasa aman, nyaman dan damai di dekatnya. Ia orang yang akrab, tidak membeda-bedakan dan sabar.
Kesederhanaan beliau amatlah unggul. Ketika hampir semua orang, Rama, memiliki HP, beliau memilih tidak mempunyai. Pasti bukan karena masalah uang, karena bahkan kalau mau beli counter HPpun bisa. Tetapi ia memilih kesederhanaan sebagai keyakinan dan teladan. Ia sunguh orang yang konsisten dengan pilihan itu, bahkan pernah berkata: saya akan tetap konsisten dengan gaya hidup saya yang sederhana ini juga kalau seolah-olah rasanya sia-sia sebagai sebuah kesaksian di zaman ini. Ibu Teresa memberikan teladan kepadanya.
Rama Darma memang seorang budayawan juga dalam arti pengetahuan dan penguasaan terhadap tradisi manusiawi, tradisi lokal khususnya Jawa, bersama beliau kami senang mendengarkan wayang kulit KI Hadisugita, bahkan ngersakaken rekaman mp3 beberapa judul wayang untuk sering didengarkan di kamar, saat bekerja atau santai. Beliau menguasai banyak bidang kehidupan hingga yang praktis, dari perkebunan dan pertanian, perikanan, hingga diskusi mengenai bulu tungkis apalagi sepak bola, bahkan beliau menjagoi Brasilia dan Spanyol utk Piala Dunia nanti.
Dari seluruh masa hidupnya yang terbentang selama 75 tahun ini, Rama Darma telah dengan setia menjalani panggilan dan tugas perutusan yang diperolehnya dari Allah sendiri. Ketika beliau tahu bahwa ia tidak dapat menentukan tugas dan pekerjaannya sendiri, ia ingat kata-kata temannya: what we are, what we become is determined by those who loved us. Maka Rama Darma hanya selalu berdoa: Ya Tuhan anugurahilah aku ketenangan untuk menerima hal-hal yang tidak dapat kuubah, keberanian untuk mengubah hal-hal yang aku dapat mengubahnya, dan kebijaksanaan untuk melihat perbedaan. Beliau juga memiliki pegangan sikap hidup orang Jawa ketika beliau menghayati kidung Mijil dalam Wulangreh: Poma kaki pada dipun eling, ing pitutur ingong, sira uga satriya arane, kudu anteng jetmika ing budi, ruruh lawan wasis samudayanipun (Anakku, ingatlah apa yang menjadi pesanku, engkau adalah satria, harus tenang, hening dalam budi, sabar-tekun dan pintar dalam segalanya). Itulah Rama Darma tidak pernah pilih-pilih dalam mana yang ia sukai tetapi apa yang berguna bagi kepentingan bersama, peka terhadap suara orang lain, tetapi tidak kehilangan arah pemikiran.
Rama Stanislaus Darmawijaya yang lahir tanggal 11 November 1935 telah kembali ke pangkuan Allah Bapa di surga tanggal 12 Mei 2010 persis vigili hari raya kenaikan Tuhan Yesus ke surga. Tahun-tahun terakhir ini beliau sering sakit, kambuh asmanya, dan beliau sangat serius menjaga kesehatannya dalam hal OR, soal makan dsb. Namun hari Selasa pagi yang lalu, beliau tidak enak badan, siangnya diantar ke PR ternyata langsung harus masuk ICU. Keadaan ternyata bertambah berat, dan mulai jam 17.00 hari Rabu 12 Mei beliau kritis. Minyak Suci diberikan. Ditunggui kami, para Rama, Frater, Suster, keluarga, pada jam 18.30 Rama Darma dengan mantap sowan Gusti, mengikuti Tuhan Yesus yang naik ke surga. Rama Darma telah menjadi sacerdos aeternum bagi Allah dan Gereja. Secara fisik kita tidak akan melihatnya lagi, tetapi dalam iman, harapan dan cinta, terutama dalam doa dan Ekaristi, kita sebenarnya kita selalu bersamanya. Kita kini mendoakan beliau, tetapi aslinya adegan akan segera cepat bergeser: beliau yang akan banyak mendoakan kita.
Rama Darma yang kami cintai, sugeng tindak, kami nyuwun pangestu lan sembahyangan saking swarga.
Berkah Dalem.
Posted: 2010-05-14 18:53:18
|