|
Berita dan Artikel Terbaru -
Artikel Terbaru
|
|
Ditulis oleh Blasius Slamet Lasmunadi Pr
|
|
Minggu, 16 May 2010 17:21 |
Saudara Saudari,
Minggu 9 Mei 2010, sekitar pukul 9.30 dimulai pengumatan Tahun Keprihatinan Pertanian Keuskupan Purwokerto di Aula Atas Paroki Purbalinga. Acara dibuka oleh Bapak Pratomo, sebagai Koordinator PSE Paroki . Pertemuan ini dihadiri 40 orang, 25 dari kota Purbalingga dan 16 orang dari Stasi Pengadegan, Stasi Kalialang, Stasi Kedungbenda, Stasi Plumutan dan Stasi Bobotsari. Pengumatan di Purbalingga sangat antusias karena ada beberapa umat yang kebetulan bidang kerjanya juga di Pertanian, Drh Wulan (dari Bobotsari), Pak Saptono (Penyuluh Pertanian) dan Sdri Prima (Sarjana Pertanian, UGM, PNS di Dep Pertanian Purbalingga).
Acara sosialisasi dimulai dengan menyanyi bersama lagu Koes Ploes: Kolam Susu
Bukan lautan hanya kolam susu
Kail dan jalan cukup menghidupimu
Tiada badai tiada topan kau temui
Ikan dan udang menghampiri dirimu
Bukan lautan hanya kolam susu
Kail dan jala cukup menghidupmu
Tiada badai tiada topan kau temui
Ikan dan udang menghampiri dirimu
Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman
Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman
Lagu itu menggambarkan kemakmuran alam Indonesia. Namun apa jaminannya bahwa generasi 20 tahun ke depan akan menikmaati alam yang sama dengan sekarang ini? Maka, sebuah pertanyaan "nakal", sempat saya lemparkan, "Kenapa Gereja ngurusin pertanian? Manakah kepentingan Gereja terhadap dunia pertanian? Apa pentingnya pertanian bagi Gereja"
Pertanyaan itu dikupas dengan mulai memperhatikan gambar tanah yang tandus. Andaikan tanah itu bisa bicara, dia akan bertanya, "Kenapa aku jadi keras begini, dan tidak bisa lagi ditanami berbagai bibit ? Siapakah yang membuaku keras? Apakah aku bisa pulih kembali menjadi tanah yang subur dan sanggup membuat biji mati lalu tumbuh tunas baru?" Kalau kita terenyuh mendengar pertanyaan Tanah, di situlah kita penting untuk Tanah, agar tanah itu kembali jadi subur, sehingga terjaminlah kelangsungan hidup tumbuhan yang kita perlukan untuk pangan kita.
Dengan berpangkal dari persoalan tanah itu, kita lalu ditantang untuk menggulirkan prinsip prinsip Ajaran Sosial Gereja, yakni prinsip hormat kepada martabat manusia, prinsip subsidiaritas: tidak mengambil alih kemampuan orang untuk mengurusi dirinya,misalnya petani, tidak ambil alih kemampuannya untuk mengembangkan bibit terus menerus, akhirnya prinsip solidaritas, yakni mengembangkan jaringan kerjasama antar komunitas umat beriman dan komunitas para petani dan peternak. Semua prinsip Ajaran Sosial Gereja itu digulirkan untuk mewujudkan kesejahteraan bersama.
Dari berbagai pemaparan tentang masalah masalah pertanian, lalu para peserta diajak untuk merumuskan beberapa masalah yang ada di lingkungan dan stasinya. Beberapa masalah yang sempat dibicarakan dalam kaitan dengan pertanian: soal kurangnya kerjasama antar kelompok baik kelompok tani maupun kelompok ternak. Fasilitas mesin pembuat kompos yang sudah ada di lingkungan juga belum digunakan maksimal. Lahan pertanian yang makin sempit. Kurangnya anak anak untuk belajar bertani. Budaya makan sehat yang mesti digalakkan agar ada usaha kembali untuk menggiatkan penanaman sayuran di sekitar rumah, lalu digiatkan apotek hidup.
Setelah makan siang, diskusi dilanjutkan dengan tawaran program kerja dari Tim PSE Paroki oleh Sdri Prima, yakni mengadakan "Sekolah Lapang" dan "Merintis Lumbung Paroki". Sekolah Lapang itu dimaksudkan untuk memberi kesempatan anak anak sampai kaum muda untuk mencicipi bertani. Menurut rencana 23 Mei akan diadakan "sinau tandur" di sawah sekitar Jetis Purbalingga. Untuk rintisan Lumbung Paroki akan dipusatkan di kompleks SMA Agustinus, sambil promosi. Rencananya akan disediakan 10.000 plastik polybag untuk berbagai jenis tanaman : buah buahan, biji bijian, dan tanaman apotek hidup.
Semoga ada banyak kejutan di Tahun Keprihatinan Pertanian, agar makin banyak orang peduli pada dunia pertanian.
Berkat Tuhan
Bl Slamet Lasmunadi Pr
|
|
Selengkapnya...
|
|
Berita dan Artikel Terbaru -
Artikel Terbaru
|
|
Ditulis oleh Blasius Slamet Lasmunadi Pr
|
|
Minggu, 16 May 2010 17:21 |
Ketika malam minggu kali ini, sahabat karib Panurata dan Jerawati tidak
menghabiskan waktunya jalan-jalan putar kota Moroarto. Tapi menghabiskan
waktunya untuk berbincang-bincang di rumah.
P : Jeng, aku punya tebakan neh.
J : Ah tebakan apa sih...kayak anak kecil aja main tebak-tebakan...
P : Penasaran kan? Tebakannya ini: Kenapa ikan dari laut ternyata rasanya itu
tawar, kalau dimasak atau digoreng tanpa garam? Padahal air laut itu asin.
Bagaimana ikan itu tidak menjadi asin, padahal air yang menjadi tempat
habitatnya asin sungguh?
J : Karena sudah dari takdir ya begitu, Pak.
P : Kalau jawabmu begitu, anak TK pun mah bisa...Jeng...
J : Habis tanya aneh-aneh begitu, kan sudah biasa ikan dari air laut itu ya
tawar rasanya!
P : Jeng, coba sabar dikit gitu. Jeng tahu kan, orang mengasini ikan laut itu,
ikan yang sudah mati atau masih hidup??
J : Ya...malah tanya lagi,...ya jelas ikan mati Kang Mas....
P : Jeng, nah gitu lho....jawab yang enak...aku kan cuma bertanya...jadi ikan
mati itulah ikan yang bisa diasini...
J : Lho Mas...jadi ikan laut itu tawar karena ikan itu tidak mati?
P : Nah tepat jawabanmu,....jadi ikan dari laut itu rasanya pasti tawar dan
tidak asin, meski air laut yang berlimpah ruah itu asin..karena ikan itu
hidup...
J : Terus Mas Panu, maksudnya gimana?
P : Begini Jeng, kalau ikan yang bisa diasini itu ikan yang sudah mati. Jadi
kalau Yesus bersabda, "Kamulah garam dunia!". Bagaimana kita mesti jadi garam
dunia, padahal kita hidup? Apa mungkin?
J : Lho....kita kenyataannya kan hidup, Mas? Terus kalau mau jadi "garam
dunia" berarti harus mati juga?? Kalau kita mati untuk jadi garam dunia, kapan
hidupnya, Mas?
P : Jeng, kalau ikan saja bisa diasini karena mati, apalagi kita. Hanya bisa
menjadi garam, artinya "hidup kita menjadi penyedap bagi hidup orang lain"
seperti garam...kalau kita mati juga. Masalahnya apa artinya mati bagi hidup
beriman..
J : Setahuku, mati itu ya "tidak bergerak, tidak bernafas, jantung berhenti".
Apa ada "mati" jenis lain?
P : Ada Jeng, mati dalam arti "kehilangan nyawa". Coba pernah tidak dengar
sabda Yesus, " Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan
nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan
menyelamatkannya." Kehilangan nyawa itu bisa berarti "kehilangan segala sesuatu
yang dianggap istimewa dan sering diperlakukan seperti "nyawa" diri kita, karena
kalau tanpa itu semua kita merasa "sedih, marah, jengkel dsb"
J : Misalnya apa Mas?
P : Misalnya ada banyak orang kecanduan rokok. kalau tidak merokok sehari
saja, sudah marah-marah...jadi "rokok" itulah nyawanya...Tidak nonton sinetron,
juga jadi uring-uringan karena rebutan nonton sepakbola dengan suami dan
anaknya..."sinetron' itu jadi "nyawanya"...."SMS" tidak dibalas jadi murung,
marah, dst...SMS itulah nyawanya....
J : Mas, kalau begitu, aku jadi tersindir nih...ya banyak ya nyawaku di
mana-mana...dan kalau itu semua tidak ada ya...aku kerap marah..gitu...kemarin
aku baru marah gara-gara bunga anggrekku yang hijau tua dipetik ama adikku..jadi
kalau begitu...nyawaku di bunga anggrek ya...
P Nah sudah kenal kan "nyawa" kita....sekarang Yesus meminta kita rela
kehilangan "nyawa" itu..bahkan juga sampai "nyawa" kita sendiri: jiwa dan raga,
kalau ditantang berani mati sampai tetes darah terakhir karena membela iman...
J Iya mas sekarang aku memahami.....
P Kalau kita mau kehilangan hobi, kesenangan nonton TV, tidak punya
kesempatan merokok karena dana minim...di situlah ada kesempatan kita untuk
menjadi tergantung pada Tuhan...kegembiraan sejati bukan pada "hobbi dan
kesenangan kita", tapi hanya pada Tuhan kita boleh berharap.Itulah salib yang
harus kita pikul. Kalau mau memanggul salib...kita akan selamat dan mengalami
kebangkitan...
J Ooo begitu Mas...iya aku makin memahami arti hidup beriman...
P Jadi berani mati kan?
J. Iya berani Mas...
P: okey....aku pun lagi belajar...sama denganmu...tahu kan..."nyawaku" itu di
"tape ketan"...ingat nggak aku sering uring-uringan kalau nggak ada tape ketan
sehari aja...
J Iya Mas....syukurlah mas juga sadar begitu...
Jam sudah pk. 21.00 WIB. Mereka belum makan, lalu Panurata keluar dan teriak
mengundang penjual nasgor "thek-thek" yang lewat di gang samping..
salam hangat,
blasius slamet lasmunadi
|
|
Selengkapnya...
|
|
|
Berita dan Artikel Terbaru -
Artikel Terbaru
|
|
Ditulis oleh Blasius Slamet Lasmunadi Pr
|
|
Minggu, 16 May 2010 17:21 |
|
Menjelang hari ulang tahun sahabatku, Kevin, dia berpesan padaku lirih hampir tak terdengar, "Jon, jangan lagi ulang tahunku dirayakan, ya!" Mendengar pesan itu, aku kaget karena Kevin bagiku pribadi yang perasa, masih berharap banyak teman memperhatikan dirinya, namun kali ini ia justru tidak mau teman temannya merayakan hari ulang tahunnya.
Kutanya lagi pada Kevin, "Kenapa tahun ini, kok kamu berbeda banget? Ada apa, sampai engkau tidak mau dirayakan teman temanmu? Teman temanmu tidak akan membenanimu untuk traktir Pizza Hut atau Spagetti Bologneis. Sama sekali tidak!" Sahut Kevin, "Jon, bukan aku tak punya uang untuk mentraktir teman temanku di kantor kerjaku!" Balasku, "Iya, tapi apakah engkau tidak mau mengatakannya padaku, kenapa kamu berubah sama sekali? Padahal biasanya dirimu yang paling seru dan paling keras meminta temanmu untuk traktir saat mereka ulang tahun. Tapi sekarang kamu sendiri kok tidak mau?" Jawab Kevin, "Joni, aku ingin membalas kebaikan teman temanku selama ini, tapi tidak pada hari ulang tahunku. Biarlah di hari ulang tahunku saat ini aku ingin menyepi. Aku ingin belajar berperang dengan diriku sampai aku kalah, akhirnya aku mau berdamai dengan diriku!"
Jony hanya menatap mata sayu sahabatnya, Kevin. Katanya, "Kevin, baiklah, aku dapat memahami keputusanmu! Bolehkah aku meminta penjelasanmu, kenapa engkau mau menyepi?" Jawab Kevin, "Jony, sudah 40 tahun aku hidup di dunia ini, namun, tanpa kusadari aku belum pernah meluangkan waktu seharian untuk mendengarkan Allah. Setiap hari aku sibuk dengan berbagai macam urusan, sampai sampai aku merasa identitasku itu tidak beda dengan pekerjaanku, karirku, jabatanku, segala prestasiku. Namun saat aku gagal, aku merasa kehilangan jati diriku. Apakah benar, aku bersikap begitu, rasanya aku kok lalu tidak percaya lagi pada Allah yang telah mengasihiku tanpa syarat. Gagal atau tidak, aku dicintai Allah. Aku mau mencoba menatap masa laluku yang menyakitkan, bukan untuk kusingkiri dan kumusuhi, tapi aku ingin bersahabat dengan masa laluku yang menyakitkan. Luka batin itu tetap ada sehingga terciptalah ruang bagiku untuk bersembunyi bersama-Nya."
Aku hanya tertegun mendengarkan kata kata Kevin. Balasku, "Kevin, aku hanya bisa berdoa di hari ulang tahunmu. Semoga di hari ulang tahunmu, engkau siap menantikan kejutan cinta Tuhan yang membuat hidupmu tetap bersemangat dan penuh harapan untuk menyongsong hari esok dengan ketidakpastiannya. Selamat ulang tahun, Kevin!" Kevin terdiam sejenak, "Jony, terima kasih, engkau memahamiku dan mendoakan aku. Aku pulang ya..sudah malam!
"Baik Kevin, selamat malam! May God bless you with the great kindness!
|
|
Selengkapnya...
|
|
Berita dan Artikel Terbaru -
Artikel Terbaru
|
|
Ditulis oleh Blasius Slamet Lasmunadi Pr
|
|
Minggu, 16 May 2010 17:21 |
|
Dalam sebuah obrolan malam Jumat Kliwon, Den Bagus Trondhol, orangyang terkenal alimnya bukan main, tiba-tiba saja memecahkan keheningan malam itu ketika mereka sedang asyik minum kopi ditemani emping dan kacang bawang.
Katanya, "Aneh, dalam diri saya kok muncul pertanyaan ini, kapan saya berhenti mencintai isteri dan anak-anak saya?" Mbah Jebul pun mulai menanggapi, "Lha, kita ya tidak tahu, sama saja kita bertanya, kapan kita mati? Yang pasti sudah jelas kan, kita akan dapat giliran mati, soal kapan itu bukan urusan kita! Begitu juga kalau kita tanya, kapan kita berhenti mencintai?"
Mas Bandhul pun menimpali dengan gayanya yang ehm...kalem .." Begini Kang Trondhol, kapan kita berhenti mencintai bukan terikat pada waktu tetapi sebenarnya amat ditentukan oleh keputusan batin kita! Lha wong kita masih hidup saja kita bisa berhenti mencintai sesama kita yang paling dekat kalau lagi nggak "mood", bahasa gaulnya anak muda sekarang. Kalau sudah mengatakan nggak "mood", orang lalu berhenti sampai di situ lalu tidak mau berbuat apapun juga. "Ah, peduli amat...Amat saja nggak peduli!". Mas Bujel pun mengiyakan, "Jadi..memang kita itu prinsipnya memang tidak pernah boleh berhenti mencintai! Tuhan saja tidak pernah beristirahat untuk mencintai kok kita mau istirahat mencintai sesama kita! Bayangkan kalau orang tua istirahat mencintai anaknya: pas anaknya sakit, kok bilang, ntar dulu ah, aku lagi istirahat...wah ya nggak tahu nanti jadinya...anak itu bisa tambah parah sakitnya atau malahan....".
Mendengar kata "istirahat", Trondhol pun lalu menyahut, ingat bacaan beberapa Minggu yang lalui, "Lho, Yesus saja beristirahat, kok, "Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika. Sebab memang begitu banyak orang yang datang dan yang perdi sehingga makan pun mereka tidak sempat!" Mas Bandhul pun menyanggah, "Oh itu maksudnya bukan
beristirahat arti nggak mood atau ogah-ogahan, tetapi, Yesus dan para murid Nya demi kepentingan pelayanan. Mereka juga sebagai pewarta membutuhkan kekuatan jasmani dan kesegaran baru agar tidak kehabisan baterai'. Cobalah kalau baterai habis bagaimana bisa menyalakan senter. Begitu para pelayan membutuhkan istirahat. Jadi jangan anggapan yang istirahat itu sekedar "angin lalu".
Istirahat pun sebuah aktivitas tidak kalah pentingnya." Bujel, mantan seminaris itu pun ikut
itulah sebabnya kita menyebut istirahat sebagai "rekreasi", dari asal katanya Bahasa Latin: "re" itu kembali dan creasi dari "creare" artinya menciptakan. Maka rekreasi adalah sebuah usaha untuk menciptkan kembali memulihkan kembali sebagaimana kondisi semula!! Dalam arti itulah,
pelayankristiani diminta untuk "beristirahat" di sela-sela tugas pelayanannya. Trondhiol pun manggut-manggut. "Ya bener juga, ya...orang tua pun butuh istirahat, tetapi soalnya kita itu memang bisa saja membuat alasan agar orang lain memaklumi kita kalau kita sedang beristirahat. Padahal kita bisa saja belum apa-apa tetapi sudah istirahat." "Begitulah,..." tambah Mbah Sugih...di sela-sela pembicaraan, "Supaya kita tidak jatuh dalam kemalasan, bukankah Yesus juga mengajak para murid agar tidak diam ketika melihat orang yang begitu banyak, meski mereka sebenarnya mau mencari tempat
untukistirahat. Tapi orang banyak mengetahui jalannya akhirnya Yesus pun
mengajak para murid untuk mengutamakan pelayanan bagi orang banyak!"
Den Mas Bandhul pun berujar, "Yesus memahami bahwa para murid itu butuh istirahat, tetapi istirahat pun tidak bisa dimutlakkan agar jangan sampai demi kepentingan istirahat, mereka menelantarkan orang yang hidup bagaikan domba tanpa gembala itu. Itulah cara Yesus menunjukkan hidup yang digerakkan oleh belas kasihan. Agar belas kasihan dapat diwujudkan, seorang pelayan membutuhkan keberanian untuk rela kehilangan segala jaminan, termasuk jaminan kesehatan jasmani!" Mendengar penjelasan Mas Bandhul, Bujel pun manggut-manggut, demikian juga Trondhol, dan Mbah Sugih!
Akhirnya Romo Sinten yang mendengar pembicaraan mereka pun, tersenyum dan angkat bicara sebagai penutup pertemuan itu."Para sedulur, menjadi pelayan tanpa kenal lelah, bukanlah mau bersikap sok pahlawan, melainkan harus disadari, namun sebuah sikap yang membutuhkan pengosongan diri agar
kita tidak mencari imbalan, bahkan tidak perlu mengeluh bila tidak "ucapan terimakasih sekalipun. Di situlah letaknya pelayanan kita menjadi tulus agar kasih Allah tanpa syarat dan tanpa pamrih juga menjadi kenyataan bagi sesama"
Pertemuan malam Jumat Kliwon itu berakhir pukul 02.00 dan ditutup dengan doa dan makan bersama dari tumpeng "Sega Megana", masakan dari Bu Rejeki, pemilik rumah makan depan pasar kota Manasuka.
Ditulis di Majenang, 23 Juli 2003
|
|
Selengkapnya...
|
|